Perhentian terakhir busway di terminal Kalideres. Aku terbangun dari tidur singkatku, karena malam itu adalah salah satu malam keberuntunganku..menikmati tempat duduk yang sangat berharga setelah 20 menit ngantri dan berdesak-desakan di Harmoni.
Menyeberang perempatan terminal Kalideres bersama serombongan orang di tengah mobil dan motor yang masih melaju, karena lampu lalu lintas masih menunjukkan warna hijau. Apa bisa dikata "majority rules!" meskipun kami melanggar aturan..toh petugas di tengah perempatan malah menyetop arus kendaraan supaya kami bisa menyeberang.
Di depan barisan tukang ojek aku menunggu metro mini 95 atau angkot B09A atau biasa disingkat boga. Setelah 5 menit menunggu, tampak 95 mendekat. Aku naik dan dapat tempat duduk di tengah. Setelah membayar dua ribu rupiah, pikiranku mulai melayang...makanan apa yang masih tersisa di kulkas. Hem ..masih ada sisa tempe 2 hari lalu dan sedikit ikan cakalang pemberian teman hari Minggu kemarin di gereja. Belum selesai aku menyimpulkan menu makan malamku, naik dua orang bocah laki-laki pengamen usia sekitar 8 tahunan. Dengan menggunakan tepukan tangan mulai mengalun sebuah lagu yang menjadi familiar di telingaku sejak dua bulan yang lalu.
Kau bilang padaku, kau ingin bertemu
ku bilang padamu oh ya nanti dulu
aku lagi sibuk sayang, aku lagi kerja sayang
untuk membeli beras dan sebongkah berlian
dilanjutkan dengan bagian reff
sayang, aku bukanlah bang toyib
yang tak pulang-pulang
yang tak pasti kapan dia datang
sabar sayang, sabarlah sebentar
aku pasti pulang karna aku bukan
aku bukan bang Toyib
Dengan suara polosnya, mereka menyanyikan refrain "aku bukan bang Toyib" beberapa kali, sebelum mengedarkan kantung. Beberapa penumpang memberikan apresiasi, beberapa melambaikan tangan dan akhirnya mereka pun turun.
Aku mulai teringat pertama kali aku mendengar lagu ini, sekitar dua bulan yang lalu, di atas metro mini dan juga dinyanyikan pengamen kecil. Setelah itu sepertinya lagu "Aku bukan bang Toyib" adalah lagu wajib bagi pengamen anak-anak. Baik di atas metro mini 95 jurusan Kalideres - Taman Anggrek, P12 - Senin Kalideres, B09A...rute yang biasa aku jalani. Mungkin karena nada yang gampang dinyanyikan dan lirik yang mudah diingat. Tapi satu hal yang agak aneh, kenapa yang menyanyikan lagu ini mayoritas pengamen cilik, tak peduli laki-laki atau perempuan?
Akhirnya aku google lagu ini. Lagu "Aku bukan bang Toyib" adalah lagu karangan grup band Wali, dan ternyata sebelum lagu ini populer, ada lagu lain yang aku belum pernah dengar, berjudul Bang Toyib. Liriknya menceritakan pria bernama Bang Toyib yang tidak pulang selama 3x lebaran, walau anak istrinya menunggu - nunggu.
Mungkin bagi anak-anak jalanan ini lagu "Aku bukan Bang Toyib" adalah harapan terpendam mereka untuk bapak mereka yang jarang pulang, ataupun sudah meninggalkan mereka karena berbagai macam alasan. Saat ini di Jakarta diperkirakan ada 8 ribu anak jalanan yang menghabiskan hari - hari mereka dengan naik turun angkot untuk mengamen, menjajakan koran, minuman atau meminta-minta di perempatan lalu lintas, dan tidur di ruang publik terbuka mulai dari stasiun, trotoar di depan mall sampai koridor menuju halte busway.
Pemerintah berusaha menangani masalah ini dengan jalan memberi tabungan sebesar Rp.1,4 juta kepada setiap anak jalanan, yang disalurkan melalui orang tua dan rumah singgah. Tabungan itu digunakan untuk menutupi kebutuhan anak seperti uang jajan, nutrisi dan kebutuhan lainnya. Kementerian Sosial menargetkan program pemberian tabungan bagi anak jalanan dapat menjangkau delapan ribu orang di Jakarta. "Yang sudah kita selesaikan (penanganannya) sampai bulan ini, sekitar 3.500 anak," ujar Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri seusai rapat di Kantor Wakil Presiden, Kamis 7 April 2011. (sumber: Tempo Interaktif 8 April 2011 - Delapan Ribu Anak Jalanan di Jakarta Akan Diberi Tabungan ). Sudah cukupkah upaya ini untuk mengentaskan anak-anak ini dari jalanan ibu kota?
Banyak akademisi sudah meneliti tentang fenomena anak jalanan. Mengapa mereka harus menjadikan jalanan ibukota sebagai tempat tinggal mereka, mengapa mereka harus mencari nafkah di jalan raya daripada tinggal di rumah dan belajar di sekolah. Salah satu faktor penyebab adalah keluarga. Ada yang sudah tidak punya orang tua sama sekali, ada yang ditinggal ayah mereka, ada juga yang diharuskan bekerja oleh orang tua mereka. Kemiskinan...pengangguran...tidak punya tempat tinggal. Mungkin anak - anak ini tidak sempat bertanya kepada orang tua mereka, mengapa mereka harus hidup seperti ini.
Keluarga adalah sebuah unit sosial yang terdiri dari orang tua dan anak. Kembali ke lirik lagu Bang Toyib..setiap anak membutuhkan figur ayah yang sanggup mengayomi keluarga mereka, mencukupi kebutuhan secara material dan spritual. Siapakah yang sanggup mengambil peran ayah bagi mereka? Siapakah panutan mereka untuk masa depan mereka? Preman, tukang copet, tukang palak, penjambret, ahli pidato intimidasi di angkot ?
Sebuah pertanyaan yang aku juga masih belum menemukan jawabannya. Jujur, aku masih belum berbuat banyak untuk mereka selain memberi uang receh. Untungnya, tidak semua orang sepertiku...ada banyak sukarelawan yang sudah berbuat jauh lebih banyak dengan mendirikan rumah singgah, memberikan pendidikan, pendampingan, menyediakan makanan bergizi dan banyak lain.
Berikut adalah informasi link beberapa yayasan yang punya misi untuk membantu anak jalanan di Jakarta dan sekitarnya :
Dunia bisa menjadi tempat yang ramah atau tempat yang paling kejam bagi anak jalanan. Apakah yang menjadi dunia mereka saat ini? Bisakah kita membangun keluarga sebagai tempat perlindungan mereka...tempat mereka merasakan kasih orang tua, melihat figur bapak sebagai teladan dan tempat mereka membangun mimpi ..
Don't you see that children are God's best gift?
the fruit of the womb his generous legacy?
Like a warrior's fistful of arrows
are the children of a vigorous youth.
Oh, how blessed are you parents,
with your quivers full of children!
( Psalm 127 : 3-5a - The Message)
Tuesday, June 28, 2011
Sunday, June 19, 2011
A Dream That Lasts
What kind of dream that will last for a lifetime?When I think about this question, it occurs to me that actually I do not remember what my childhood dream was. I just consent on how to study well and get good grades. When I was a teenager I thought I want to be a doctor because I like to help people. However when I did not get accepted into the medical major at the state university, I just easily swayed to study other major. I did not give too much thinking about what I will study there, what knowledge I can use after I graduated, what kind of career I want to achieve using the result of my 4.5 years study. Maybe I was too flexible or I haven't given serious thought about what I want my future would be.
Now I was already in my thirties. I have a job that could support me, live in a house with my two friends, involved in ministry at church, keep contact with my friend occasionally ...and now something inside me asked what else you want to achieve. Can I still dream at my current age while I am still not quite sure what my passion is?
Joseph was given dream when he was seventeen that his family would bow down before him. It took 13 years of being thrown into a pit, sold as a slave, wrongly accused, jailed and forgotten until his dream finally become reality. Abraham had dream at 75 years of age, when God told him that He will make Abram a great nation It took him 25 years of waiting, asking questions, looking for his own solution before he finally got the promised son.
Paul was in his thirties when he pursued his dream of capturing and torturing Jesus's followers. However at the midst of his passionate journey, God intervened and from that day his life was changed to a totally different direction. He walked in God's dream all the way until the end of his life.
The very credentials these people are waving around as something special, I'm tearing up and throwing out with the trash—along with everything else I used to take credit for. And why? Because of Christ. Yes, all the things I once thought were so important are gone from my life. Compared to the high privilege of knowing Christ Jesus as my Master, firsthand, everything I once thought I had going for me is insignificant—dog dung. I've dumped it all in the trash so that I could embrace Christ and be embraced by Him (Philippians 3:8 - The Message)
Those were what Paul wrote in one of his many letters to the early churches. Measured with human standards of success, it is very difficult for Paul to get into the list of successful people. He was stoned, being ridiculed, beaten, abandoned, chained and jailed till the end of his life. He had to support his ministry by his own work. One of Paul's big dream was to testify before Caesar in Rome. Although not as he had planned, God fulfilled his dream. Paul was taken to Rome as prisoner who appealed to Caesar instead of as a free missionary.
A dream that lasts is a God's given dream.
It propped out from the deep of our heart now and then....in the midst of our routine, during our rest time, in the middle of our conservation with our friends...when we lie alone in our bed.
It will keep bothering us until we give enough attention and effort to start working on it.
On second thought, I think I may have one or two dreams that will last for a lifetime..
Now I was already in my thirties. I have a job that could support me, live in a house with my two friends, involved in ministry at church, keep contact with my friend occasionally ...and now something inside me asked what else you want to achieve. Can I still dream at my current age while I am still not quite sure what my passion is?
Joseph was given dream when he was seventeen that his family would bow down before him. It took 13 years of being thrown into a pit, sold as a slave, wrongly accused, jailed and forgotten until his dream finally become reality. Abraham had dream at 75 years of age, when God told him that He will make Abram a great nation It took him 25 years of waiting, asking questions, looking for his own solution before he finally got the promised son.
Paul was in his thirties when he pursued his dream of capturing and torturing Jesus's followers. However at the midst of his passionate journey, God intervened and from that day his life was changed to a totally different direction. He walked in God's dream all the way until the end of his life.
The very credentials these people are waving around as something special, I'm tearing up and throwing out with the trash—along with everything else I used to take credit for. And why? Because of Christ. Yes, all the things I once thought were so important are gone from my life. Compared to the high privilege of knowing Christ Jesus as my Master, firsthand, everything I once thought I had going for me is insignificant—dog dung. I've dumped it all in the trash so that I could embrace Christ and be embraced by Him (Philippians 3:8 - The Message)
Those were what Paul wrote in one of his many letters to the early churches. Measured with human standards of success, it is very difficult for Paul to get into the list of successful people. He was stoned, being ridiculed, beaten, abandoned, chained and jailed till the end of his life. He had to support his ministry by his own work. One of Paul's big dream was to testify before Caesar in Rome. Although not as he had planned, God fulfilled his dream. Paul was taken to Rome as prisoner who appealed to Caesar instead of as a free missionary.
A dream that lasts is a God's given dream.
It propped out from the deep of our heart now and then....in the midst of our routine, during our rest time, in the middle of our conservation with our friends...when we lie alone in our bed.
It will keep bothering us until we give enough attention and effort to start working on it.
On second thought, I think I may have one or two dreams that will last for a lifetime..
Subscribe to:
Comments (Atom)