Tuesday, June 28, 2011

Sayang, aku bukanlah Bang Toyib

Perhentian terakhir busway di terminal Kalideres. Aku terbangun dari tidur singkatku, karena malam itu adalah salah satu malam keberuntunganku..menikmati tempat duduk yang sangat berharga setelah 20 menit ngantri dan berdesak-desakan di Harmoni.


Menyeberang perempatan terminal Kalideres bersama serombongan orang di tengah mobil dan motor yang masih melaju, karena lampu lalu lintas masih menunjukkan warna hijau. Apa bisa dikata "majority rules!" meskipun kami melanggar aturan..toh petugas di  tengah perempatan malah menyetop arus kendaraan supaya kami bisa menyeberang.


Di depan barisan tukang ojek aku menunggu metro mini 95 atau angkot B09A atau biasa disingkat boga. Setelah 5 menit menunggu, tampak 95 mendekat. Aku naik dan dapat tempat duduk di tengah. Setelah membayar dua ribu rupiah, pikiranku mulai melayang...makanan apa yang masih tersisa di kulkas. Hem ..masih ada sisa tempe 2 hari lalu dan sedikit ikan cakalang pemberian teman hari Minggu kemarin di gereja. Belum selesai aku menyimpulkan menu makan malamku, naik dua orang bocah laki-laki pengamen usia sekitar 8 tahunan. Dengan menggunakan tepukan tangan mulai mengalun sebuah lagu yang menjadi familiar di telingaku sejak dua bulan yang lalu.

      Kau bilang padaku, kau ingin bertemu
      ku bilang padamu oh ya nanti dulu
      aku lagi sibuk sayang, aku lagi kerja sayang
      untuk membeli beras dan sebongkah berlian

dilanjutkan dengan bagian reff
       sayang, aku bukanlah bang toyib
       yang tak pulang-pulang
       yang tak pasti kapan dia datang
      
       sabar sayang, sabarlah sebentar
       aku pasti pulang karna aku bukan
        aku bukan bang Toyib

Dengan suara polosnya, mereka menyanyikan refrain "aku bukan bang Toyib" beberapa kali, sebelum mengedarkan kantung. Beberapa penumpang memberikan apresiasi, beberapa melambaikan tangan dan akhirnya mereka pun turun.

Aku mulai teringat pertama kali aku mendengar lagu ini, sekitar dua bulan yang lalu, di atas metro mini dan juga dinyanyikan pengamen kecil. Setelah itu sepertinya lagu "Aku bukan bang Toyib" adalah lagu wajib bagi pengamen anak-anak. Baik di atas metro mini 95 jurusan Kalideres - Taman Anggrek, P12 - Senin Kalideres, B09A...rute yang biasa aku jalani. Mungkin karena nada yang gampang dinyanyikan dan lirik yang mudah diingat. Tapi satu hal yang agak aneh, kenapa yang  menyanyikan lagu ini mayoritas pengamen cilik, tak peduli laki-laki atau perempuan?

Akhirnya aku google lagu ini. Lagu "Aku bukan bang Toyib" adalah lagu karangan grup band Wali, dan ternyata sebelum lagu ini populer, ada lagu lain yang aku belum pernah dengar, berjudul Bang Toyib. Liriknya menceritakan pria bernama Bang Toyib yang tidak pulang selama 3x lebaran, walau anak istrinya menunggu - nunggu.

Mungkin bagi anak-anak jalanan ini lagu "Aku bukan Bang Toyib"  adalah harapan terpendam mereka untuk bapak mereka yang jarang pulang, ataupun sudah meninggalkan mereka karena berbagai macam alasan. Saat ini di Jakarta diperkirakan ada 8 ribu anak jalanan yang menghabiskan hari - hari mereka dengan naik turun angkot untuk mengamen, menjajakan koran, minuman atau meminta-minta di perempatan lalu lintas, dan tidur di ruang publik terbuka mulai dari stasiun, trotoar di depan mall sampai koridor menuju halte busway.

Pemerintah berusaha menangani masalah ini dengan jalan memberi tabungan sebesar Rp.1,4 juta kepada setiap anak jalanan, yang disalurkan melalui orang tua dan rumah singgah. Tabungan itu digunakan untuk menutupi kebutuhan anak seperti uang jajan, nutrisi dan kebutuhan lainnya. Kementerian Sosial menargetkan program pemberian tabungan bagi anak jalanan dapat menjangkau delapan ribu orang di Jakarta. "Yang sudah kita selesaikan (penanganannya) sampai bulan ini, sekitar 3.500 anak," ujar Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri seusai rapat di Kantor Wakil Presiden, Kamis 7 April 2011. (sumber: Tempo Interaktif 8 April 2011 - Delapan Ribu Anak Jalanan di Jakarta Akan Diberi Tabungan ). Sudah cukupkah upaya ini untuk mengentaskan anak-anak ini dari jalanan ibu kota?


Banyak akademisi sudah meneliti tentang fenomena anak jalanan. Mengapa mereka harus menjadikan jalanan ibukota sebagai tempat tinggal mereka, mengapa mereka harus mencari nafkah di jalan raya daripada tinggal di rumah dan belajar di sekolah.  Salah satu faktor penyebab adalah keluarga. Ada yang sudah tidak punya orang tua sama sekali, ada yang ditinggal ayah mereka, ada juga yang diharuskan bekerja oleh orang tua mereka. Kemiskinan...pengangguran...tidak punya tempat tinggal. Mungkin anak - anak ini  tidak sempat bertanya kepada orang tua mereka, mengapa mereka harus hidup seperti ini.


Keluarga adalah sebuah unit sosial yang terdiri dari orang tua dan anak. Kembali ke lirik lagu Bang Toyib..setiap anak membutuhkan figur ayah yang sanggup mengayomi keluarga mereka, mencukupi kebutuhan secara material dan spritual. Siapakah yang sanggup mengambil peran ayah bagi mereka? Siapakah panutan mereka untuk masa depan mereka? Preman, tukang copet, tukang palak, penjambret, ahli pidato intimidasi di angkot ?


Sebuah pertanyaan yang aku juga masih belum menemukan jawabannya. Jujur, aku masih belum berbuat banyak untuk mereka selain memberi uang receh. Untungnya, tidak semua orang sepertiku...ada banyak sukarelawan yang sudah berbuat jauh lebih banyak dengan mendirikan rumah singgah, memberikan pendidikan, pendampingan, menyediakan makanan bergizi dan banyak lain.


Berikut adalah informasi link beberapa yayasan yang punya misi untuk membantu anak jalanan di Jakarta dan sekitarnya :
Dunia bisa menjadi tempat yang ramah atau tempat yang paling kejam bagi anak jalanan. Apakah yang menjadi dunia mereka saat ini? Bisakah kita membangun keluarga sebagai tempat perlindungan mereka...tempat mereka merasakan kasih orang tua, melihat figur bapak sebagai teladan dan tempat mereka membangun mimpi ..

Don't you see that children are God's best gift?
the fruit of the womb his generous legacy?
Like a warrior's fistful of arrows
are the children of a vigorous youth.
Oh, how blessed are you parents,
with your quivers full of children!

( Psalm 127 : 3-5a - The Message)








No comments:

Post a Comment