Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, January 14, 2019

Trying To Catch Fading Moments

This would be my first writing in 2018, and it should be a reflection of what I have achieved in 2018 and describing my vision, hope and dreams for 2019. But, I just realized that my 2018 was not that great. Not even one of my resolutions made in January 2018 was achieved, not even as simple as one jogging in the morning.

And to my horror, most of our prayers that we pray as family each year still have not been answered. My brother and his wife is still waiting for their first child after 6 years of marriage, my mom is still struggling with her health, which even seems worse now, and I am also still figuring out the fuller version of me, and I am afraid that time is running out.

Such a cheerful opening for the first writing to start the new year. Life is not as happy and shining as the pictures in my instagram feed. Happiness is worth sharing to the world, while sadness in ours to bear with our closest connections. 

In the last week of 2018 three women who I love and respect so much were so weak in body and mind that they barely recognised me. It has never occurred to me that I can feel so happy just hearing my mom answer to my question of," What you would like to eat?" or when she asked," How do you go back?", after I told her I will go back to Jakarta tomorrow morning. 

Fading memories, how can I revive them?
What to do when all become blur and hazy
Can one forget how to feel?

My misery is I can not forget what it has been in the past 
And the damn comparison cycle that keeps running in my head
Not to mention the WHY questions 

I have to get this feeling out one way or another, before I start another year of journey. I still have to learn a lot from Job who was able to settle with God not giving him answer to why he had to lost all his children, wealth and health just in three days. 

Had Job read the Old Testament today, I still could not predict his reaction. Would he be mad that the life of his ten children worth the Satan taunt to God? If he has not been so godly, Satan would not be interested in him and his children would still be alive. 

However the bible did say that Job admitted he knew God better through his lost and suffering. How is it that he can have better knowledge of The Not Understandable? I think it will still become a mystery that I need to discover. 

Happiness is not always found in the big celebration, but also in smaller milestone.
In her remembrance of me, every answer, questions that she asked even in her smile 
In my trying to catch her before she is slipping away

This year gonna be the year where I am gonna embrace every moments given 
When my faith is challenged with every WHY questions just like every questions Job asked to God
When I have to preserve HOPE with all my might so as not become disappointed of it
And I know You will be with me going through 2019 - which I have decided will have no new resolution.

Thank You for accompanying me while I am writing all this outburst of me and still loving me. 

Tuesday, June 28, 2011

Sayang, aku bukanlah Bang Toyib

Perhentian terakhir busway di terminal Kalideres. Aku terbangun dari tidur singkatku, karena malam itu adalah salah satu malam keberuntunganku..menikmati tempat duduk yang sangat berharga setelah 20 menit ngantri dan berdesak-desakan di Harmoni.


Menyeberang perempatan terminal Kalideres bersama serombongan orang di tengah mobil dan motor yang masih melaju, karena lampu lalu lintas masih menunjukkan warna hijau. Apa bisa dikata "majority rules!" meskipun kami melanggar aturan..toh petugas di  tengah perempatan malah menyetop arus kendaraan supaya kami bisa menyeberang.


Di depan barisan tukang ojek aku menunggu metro mini 95 atau angkot B09A atau biasa disingkat boga. Setelah 5 menit menunggu, tampak 95 mendekat. Aku naik dan dapat tempat duduk di tengah. Setelah membayar dua ribu rupiah, pikiranku mulai melayang...makanan apa yang masih tersisa di kulkas. Hem ..masih ada sisa tempe 2 hari lalu dan sedikit ikan cakalang pemberian teman hari Minggu kemarin di gereja. Belum selesai aku menyimpulkan menu makan malamku, naik dua orang bocah laki-laki pengamen usia sekitar 8 tahunan. Dengan menggunakan tepukan tangan mulai mengalun sebuah lagu yang menjadi familiar di telingaku sejak dua bulan yang lalu.

      Kau bilang padaku, kau ingin bertemu
      ku bilang padamu oh ya nanti dulu
      aku lagi sibuk sayang, aku lagi kerja sayang
      untuk membeli beras dan sebongkah berlian

dilanjutkan dengan bagian reff
       sayang, aku bukanlah bang toyib
       yang tak pulang-pulang
       yang tak pasti kapan dia datang
      
       sabar sayang, sabarlah sebentar
       aku pasti pulang karna aku bukan
        aku bukan bang Toyib

Dengan suara polosnya, mereka menyanyikan refrain "aku bukan bang Toyib" beberapa kali, sebelum mengedarkan kantung. Beberapa penumpang memberikan apresiasi, beberapa melambaikan tangan dan akhirnya mereka pun turun.

Aku mulai teringat pertama kali aku mendengar lagu ini, sekitar dua bulan yang lalu, di atas metro mini dan juga dinyanyikan pengamen kecil. Setelah itu sepertinya lagu "Aku bukan bang Toyib" adalah lagu wajib bagi pengamen anak-anak. Baik di atas metro mini 95 jurusan Kalideres - Taman Anggrek, P12 - Senin Kalideres, B09A...rute yang biasa aku jalani. Mungkin karena nada yang gampang dinyanyikan dan lirik yang mudah diingat. Tapi satu hal yang agak aneh, kenapa yang  menyanyikan lagu ini mayoritas pengamen cilik, tak peduli laki-laki atau perempuan?

Akhirnya aku google lagu ini. Lagu "Aku bukan bang Toyib" adalah lagu karangan grup band Wali, dan ternyata sebelum lagu ini populer, ada lagu lain yang aku belum pernah dengar, berjudul Bang Toyib. Liriknya menceritakan pria bernama Bang Toyib yang tidak pulang selama 3x lebaran, walau anak istrinya menunggu - nunggu.

Mungkin bagi anak-anak jalanan ini lagu "Aku bukan Bang Toyib"  adalah harapan terpendam mereka untuk bapak mereka yang jarang pulang, ataupun sudah meninggalkan mereka karena berbagai macam alasan. Saat ini di Jakarta diperkirakan ada 8 ribu anak jalanan yang menghabiskan hari - hari mereka dengan naik turun angkot untuk mengamen, menjajakan koran, minuman atau meminta-minta di perempatan lalu lintas, dan tidur di ruang publik terbuka mulai dari stasiun, trotoar di depan mall sampai koridor menuju halte busway.

Pemerintah berusaha menangani masalah ini dengan jalan memberi tabungan sebesar Rp.1,4 juta kepada setiap anak jalanan, yang disalurkan melalui orang tua dan rumah singgah. Tabungan itu digunakan untuk menutupi kebutuhan anak seperti uang jajan, nutrisi dan kebutuhan lainnya. Kementerian Sosial menargetkan program pemberian tabungan bagi anak jalanan dapat menjangkau delapan ribu orang di Jakarta. "Yang sudah kita selesaikan (penanganannya) sampai bulan ini, sekitar 3.500 anak," ujar Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri seusai rapat di Kantor Wakil Presiden, Kamis 7 April 2011. (sumber: Tempo Interaktif 8 April 2011 - Delapan Ribu Anak Jalanan di Jakarta Akan Diberi Tabungan ). Sudah cukupkah upaya ini untuk mengentaskan anak-anak ini dari jalanan ibu kota?


Banyak akademisi sudah meneliti tentang fenomena anak jalanan. Mengapa mereka harus menjadikan jalanan ibukota sebagai tempat tinggal mereka, mengapa mereka harus mencari nafkah di jalan raya daripada tinggal di rumah dan belajar di sekolah.  Salah satu faktor penyebab adalah keluarga. Ada yang sudah tidak punya orang tua sama sekali, ada yang ditinggal ayah mereka, ada juga yang diharuskan bekerja oleh orang tua mereka. Kemiskinan...pengangguran...tidak punya tempat tinggal. Mungkin anak - anak ini  tidak sempat bertanya kepada orang tua mereka, mengapa mereka harus hidup seperti ini.


Keluarga adalah sebuah unit sosial yang terdiri dari orang tua dan anak. Kembali ke lirik lagu Bang Toyib..setiap anak membutuhkan figur ayah yang sanggup mengayomi keluarga mereka, mencukupi kebutuhan secara material dan spritual. Siapakah yang sanggup mengambil peran ayah bagi mereka? Siapakah panutan mereka untuk masa depan mereka? Preman, tukang copet, tukang palak, penjambret, ahli pidato intimidasi di angkot ?


Sebuah pertanyaan yang aku juga masih belum menemukan jawabannya. Jujur, aku masih belum berbuat banyak untuk mereka selain memberi uang receh. Untungnya, tidak semua orang sepertiku...ada banyak sukarelawan yang sudah berbuat jauh lebih banyak dengan mendirikan rumah singgah, memberikan pendidikan, pendampingan, menyediakan makanan bergizi dan banyak lain.


Berikut adalah informasi link beberapa yayasan yang punya misi untuk membantu anak jalanan di Jakarta dan sekitarnya :
Dunia bisa menjadi tempat yang ramah atau tempat yang paling kejam bagi anak jalanan. Apakah yang menjadi dunia mereka saat ini? Bisakah kita membangun keluarga sebagai tempat perlindungan mereka...tempat mereka merasakan kasih orang tua, melihat figur bapak sebagai teladan dan tempat mereka membangun mimpi ..

Don't you see that children are God's best gift?
the fruit of the womb his generous legacy?
Like a warrior's fistful of arrows
are the children of a vigorous youth.
Oh, how blessed are you parents,
with your quivers full of children!

( Psalm 127 : 3-5a - The Message)








Tuesday, September 15, 2009

Suatu Hari Di Perkampungan Facebook

Sejak demam facebook mulai melanda sejak awal tahun lalu, rutinitasku mulai berubah. Hampir setiap hari cek facebook (FB) adalah suatu hal yang pasti aku lakukan. Dan tidak terasa FB juga mempengaruhi hidupku. Aku bisa berhubungan kembali dengan teman – teman masa SD, SMP dan SMA, kuliah dan kerja yang sudah aku anggap tidak bakalan ketemu lagi.

Reuni jadi kebiasaan baru sejak demam FB merebak. Uniknya, lewat reuni ala FB aku bisa kenalan lagi dengan teman – teman yang aku tidak kenal saat sekolah. Itulah dahsyatnya networking.

Di FB kita bisa menjumpai berbagai tipe orang. Ada teman-teman yang suka share apa yang sedang mereka rasakan, entah itu baik atau buruk. Ada luapan kegembiraan dan juga luapan kekesalan ! Ada yang menceritakan apa yang sedang mereka kerjakan sekarang. Ada pula yang suka memberi komentar, baik itu bercanda, ngejatuhin atau ngasih semangat.

FB jadi seperti suatu kampung yang ramai. Dengan melihat status teman – temanku, aku sedikit banyak bisa tahu apa yang sedang mereka alami sehari – hari, bagaimana reaksi mereka saat menghadapi masalah, apa yang sedang mereka alami. Lewat FB aku bisa tahu nama perusahaan baru tempat temanku pindah kerja, tanpa dia cerita, gara – gara dia rajin update statusnya di FB. Meskipun temanku tidak memberitahukan kemana dia mau berlibur, akhirnya aku bisa tahu kemana ia berlibur, lewat komentar temannya yang lain di FB. Jadi, apakah itu sesuatu yang baik atau tidak baik, tergantung bagaimana kita menggunakan informasi tersebut.

Bagiku sendiri, FB sangat membantuku untuk belajar memberikan dorongan semangat, simpati, doa, dan turut bergembira untuk hal – hal yang dialami orang – orang yang aku perhatikan. Dari FB aku tahu bahwa ayah sahabatku waktu kuliah di Surabaya (sekarang aku tinggal di Jakarta) meninggal mendadak karena serangan jantung. Dari FB aku tahu, anak temanku yang tinggal di kota lain sedang sakit yang belum ketahuan apa penyebabnya, dan masih banyak lagi kejadian yang lain.

Beberapa bulan yang lalu, aku post status di FB saat laptopku crash dan semua datanya hilang. Dan tidak disangka banyak teman-teman yang begitu perhatian dengan memberi saran, komentar, dan penghiburan di statusku. Wow..selain terkejut aku juga cukup senang. Ternyata ada yang perhatiin aku juga ya..:). Saat ulang tahun juga adalah saat yang mengharukan, aku membaca setiap ucapan selamat ulang tahun yang dipost di wall ku. Sesederhana apapun, itu adalah bukti bahwa aku punya orang – orang yang memperhatikanku. Dan aku mengucap syukur atas semua bentuk perhatian dan kasih yang diberikan padaku.

Jadi kalau saat ini kita sudah tergabung di kampung FB, ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk memperhatikan teman – teman sekampung kita. Lebih mudah untuk mengupdate status kita dengan problem, hal – hal negatif, keluhan, sarkasme. Akan tetapi hidup kita sudah penuh dengan hal – hal negatif baik dari diri kita sendiri, orang – orang di sekeliling kita bahkan masyarakat dimana kita hidup.

Satu kutipan dari film “Departed” yang kutonton dua hari yang lalu, “ Aku bukanlah produk dari lingkunganku, tapi lingkunganku adalah produk dari diriku.” Jadi kalau kita bisa mengubah suasana hati seseorang yang sedang bete dengan kata – kata yang membangun, bukankah kita sedang mengubah lingkungan kampung Facebook kita?

Amsal 16:24 Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.

Allah selalu melihat yang baik dalam diri kita, walaupun kita sendiri tidak melihatnya.

Allah menyebut Gideon sebagai pahlawan, saat ia melihat dirinya sendiri sebagai pecundang.
Yesus menyebut Petrus sebagai batu karang, saat ia melihat dirinya sendiri sebagai orang plin – plan.
Allah menyebut Abraham sebagai bapa orang beriman, saat ia mulai meragukan janji Bapa

Kalau Allah mengucapkan iman yang sedemikian besar terhadap diri kita, sudah saatnya kita juga punya iman untuk mengucapkan perkataan yang membangun, janji Tuhan kepada teman – teman kita, dimulai dari satu hal yang sederhana...menulis komentar yang membangun, memberi perhatian, berdoa, memberi saran dan bantuan bagi orang – orang yang Tuhan sudah taruh di perkampungan FB kita.

Saat kita menabur, kita pasti akan menuai. Akan ada orang – orang yang Tuhan gerakkan untuk menguatkan kita saat kita lemah, apabila kita setia menabur perkataan firman Tuhan kepada orang – orang yang sedang membutuhkan. Selamat menjadikan hari yang luar biasa di kampung Facebook kita masing – masing!

Tuesday, August 4, 2009

When everything seems stand still (Saat semua nampak seperti tak bergerak)

Memulai satu lagi hari yang baru. Berharap ada sesuatu berbeda yang terjadi di tengah rutinitas yang sudah direncanakan. Waktu terus berjalan, semua berjalan seperti hari kemarin. Makan pagi, berangkat ke kantor, menjawab beberapa telepon, dan sampailah pada saat istirahat makan siang. Sesudah jam makan siang, rutinitas tetap berlanjut. Menemani beberapa pelanggan, menangani beberapa keluhan dan sampailah saat jam kerja berakhir. Memulai lagi perjuangan panjang di tengah antrian mobil, motor, metro mini, bus DAMRI untuk sampai ke rumah lagi.

Itulah yang terjadi di hampir setiap hari – hariku. Waktu seakan tak bergerak, tetapi ia berjalan tanpa kenal ampun. Empat bulan lagi tahun 2009 sudah akan berakhir. Kembali pertanyaan yang sama menggaung dalam pikiranku. Apa yang sudah kubuat selama delapan bulan ini? Apakah hidupku lebih berhasil dari tahun lalu? Sudahkah kucapai target-target yang kutulis pada tanggal 1 Januari 2009? Sudahkah aku masuk tanah Perjanjian atau masihkah aku berputar – putar di padang gurun seperti bangsa Israel?

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Ada hal – hal besar dalam hidupku yang sepertinya belum berubah dari tahun sebelumnya, seperti penghasilan, pekerjaan, pasangan hidup yang belum muncul, kelompok sel yang kembang kempis, dan beberapa hal lain.

Tetapi Allah mengingatkanku, ada hal – hal baru lain yang kucapai dalam tahun ini. Aku belajar untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan teman – teman dalam komsel ku, adik – adik rohani dan beberapa teman baru . Aku belajar lebih memperhatikan keluargaku yang tinggal di luar kota. Aku memperdalam lagi hobi musikku dengan mengambil kursus keyboard. Aku memulai hobi menulis dengan membuat blog dan membuat notes di account facebookku. Aku mendapatkan gairah dan warna baru dalam pelayanan musik terutama pada saat penyembahan.

Hal – hal ini sepertinya sangat sepele dan tidak ada artinya bagi dunia di sekitar kita. Banyak teman – teman seangkatanku yang hidupnya jauh lebih sukses dariku, baik dalam segi finansial, karir atau keluarga. Tetapi satu hal yang tetap kupercaya, hidupku sangat berarti bagi Allah dan juga bagi orang – orang lain di sekitarku.

Habakuk 2:4b – Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya

Pertanyaan pertama...sudahkah aku menjadi orang benar?
Dibenarkan oleh darah Yesus, menerima anugerah, pengampunan, damai, sukacita dan pengharapan akan hari depan yang lebih baik. Saat aku masih kuatir, lelah untuk beriman dan mulai membandingkan diriku dengan orang lain, berarti aku masih belum sepenuhnya menerima Yesus untuk tinggal dalam hidupku.

Pertanyaan kedua...sudahkah aku hidup oleh percayaku kepadaNya?
Pagi ini aku diingatkan lagi, maukah aku mempercayaiNya karena aku mengasihiNya ...
Will you believe Me out of your love to Me?

Kalau aku mengatakan aku mengasihiNya (seperti yang sering aku nyanyikan di gereja), aku akan memilih untuk tetap percaya akan semua janjiNya. Saat keadaan sekelilingku sepertinya tidak bergerak, aku akan tetap bergerak – menguatkan kembali percayaku kepadaNya dan hidup oleh percayaku, karena aku mengasihiNya.

I love You Lord and how can I not believe in You
Help me to live in Your righteousness always
Sharpen my ear so I can hear Your still voice so clear in the midst of other voices
Give me courage to step out when Your door of opportunities open in front of me
My saved lives will bring impact to people around me

Aku mengasihiMu Bapa, dan bagaimana aku bisa tidak percaya padaMu ?
Tolong aku untuk hidup dalam kebenaranMu senantiasa
Pertajam pendengaranku, sehingga aku bisa mendengar suaraMu di tengah begitu banyak suara lain
Beri aku keberanian untuk melangkah maju saat pintu kesempatanMu terbuka di depanku
Hidupku yang telah Kau tebus akan berdampak bagi orang – orang di sekelilingku..

Wednesday, July 22, 2009

Damai Yang Berbeda (A Different Kind of Peace)

Bagaimana seharusnya perasaan kita saat kita mendengar ada bom meledak di kota kita sendiri? Sedih, cemas, was – was, prihatin terhadap korban yang jatuh, dan akhirnya geram. Pagi itu, sekitar pukul 08.30, saat saya sedang berada di mobil kantor dalam perjalanan menjemput karyawan, atasan saya menelpon. Ia memberitahu ada bom meledak di hotel Ritz Carlton Kuningan dan minta kami berjaga – jaga kalau ada kemacetan di daerah Sudirman menuju Kuningan, dan agar bisa mengambil jalan alternatif. Kantor kami ada di daerah KH Mas Mansyur, dekat ke jalan Sudirman, dan sebenarnya masih agak jauh dari Mega Kuningan.

Setelah mendengar berita mengejutkan itu, langsung tangan saya memutar tombol radio 90.00 – El Shinta News & Talk. Ternyata bom meledak di dua hotel – Ritz Carlton & JW Mariot. Sepertinya sudah lama sekali tidak terdengar ada ledakan bom di tempat – tempat keramaian di Indonesia. Dua kali Pemilu berjalan dengan lancar dan aman. Beberapa kali perayaan Natal, Tahun Baru dan Idul Fitri berjalan dengan damai tanpa ada gangguan keamanan.

Dan ternyata pada pagi hari tanggal 17 Juli 2009, terjadi lagi ledakan bom di 2 hotel mewah bintang 5 di kawasan Mega Kuningan. Muncul kembali perasaan asing yang pernah timbul dalam hati. Sedih, was – was, kuatir tentang teman – teman saya yang bekerja di daerah Kuningan. Ternyata meskipun seharusnya kita sudah terbiasa mendengar berita ledakan bom, tetapi ternyata perasaan saya tidak kebal dan tetap ada perasaan tidak enak yang menyelip dalam hati saya.

Pada minggu itu gereja kami kedatangan satu rombongan youth berjumlah 14 orang dari Newcastle Australia, yang khusus datang sebagai band tamu untuk festival band “Rock the City” di tempat kami. Festival Band “Rock the City” akan diadakan keesokan harinya, pada hari Sabtu tanggal 19 Juli 2009. Sempat terjadi diskusi serius apakah festival tetap berlangsung sesuai rencana, ditunda atau bahkan dibatalkan, mengingat ada beberapa orang tua yang kuatir meminta agar anaknya segera pulang kembali ke Newcastle pada hari itu juga. Dan akhirnya dengan iman dan berbagai pertimbangan, diambil keputusan festival tetap berlangsung sesuai jadwal. Dan itu adalah keputusan yang benar. Singkat cerita festival berjalan dengan sukses, tidak ada gangguan keamanan, dan semua yang hadir menikmati penampilan setiap band peserta dan tentu saja band tamu “Weapon Generation” dari Newcastle.

Peristiwa ledakan bom ini mengingatkan kita bahwa tidak ada tempat yang aman di dunia ini. Akan selalu ada pihak – pihak yang berusaha menggoncangkan rasa aman yang ada dalam diri kita. Baik itu lewat berita buruk, bencana, kecelakaan, bahkan serangan teroris seperti yang terjadi baru – baru ini.

Tidak ada rasa aman yang bisa kita dapatkan selain dari Sang Pencipta Kita. Setiap kita mempunyai orang – orang terdekat yang kita sayangi. Betapa hancur hati kita bila kita mendengar ada sesuatu kejadian buruk yang terjadi kepada mereka. Entah itu penyakit jantung atau stroke yang bisa menyerang dengan begitu tiba – tiba. Atau siapa yang dapat merasakan perasaan hati Ratna, istri Evert Mokodompis, saat ia menyadari hari yang seharusnya penuh kebahagiaan karena putra yang dinanti-nantikan lahir dengan selamat, menjadi hari yang paling memilukan. Sang suami menjadi salah satu korban tewas ledakan bom hotel J.W Mariot. Ternyata teror maut begitu dekat dengan kehidupan kita sehari – hari.

Saya teringat saat Papa mengalami serangan stroke yang pertama sekitar 15 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kuliah. Keluarga kami tinggal di Mojokerto, satu jam perjalanan dari Surabaya. Malam itu sebelum berangkat ke rumah sakit, mama memimpin saya dan dua adik saya untuk berdoa bersama. Pada saat itu ada ketenangan dalam hati kami. Papa akan baik – baik saja.


Kemudian 5 tahun yang lalu, Papa mengalami stroke kedua. Saat itu saya sudah bekerja di Jakarta, beserta adik saya yang kuliah kedokteran di UKI. Kami mendengar berita itu pada hari Minggu pagi, sebelum kami berangkat ke gereja. Pada hari itu kami bertugas melayani di gereja sebagai musisi dan singer. Hanya ada satu yang kami bisa lakukan, berdoa dan menyerahkan semuanya pada Bapa yang terkasih. Pada waktu itu usia Papa sudah 70 tahun, usia yang sangat rawan apabila terkena serangan stroke yang kedua. Kami tetap melayani dengan damai pada hari itu, dan Bapa selalu mendengar doa putra – putrinya. Sampai hari ini Papa tetap sehat. Bahkan beberapa anggota keluarga kami yang jauh lebih sehat pada waktu Papa pertama kali terkena serangan stroke, sudah dipanggil Tuhan, dan Papa masih ada bersama-sama kami.

Dimanakah damai saat kita sangat memerlukannya? Bukan pada saat keadaan kita sedang baik – baik saja. Tetapi pada saat hal – hal yang tidak terduga terjadi pada diri kita sendiri atau orang – orang di sekeliling kita, saat itulah kita memerlukan damai sejahteraNya.

Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Dunia bisa berusaha memberikan damai kepada kita. Banyak cara yang mereka tawarkan, yoga, meditasi, relaxing spa, hang out di kafe, dengerin musik, chatting, konseling, nonton film, fitness, dan lain – lain. Tetapi damai yang mereka tawarkan sama seperti ekstasi, nikmatnya hanya sesaat saja. Pada saat kita sendirian dengan diri kita, apakah kita masih bisa merasakan damai dalam hati kita?

Akan ada saatnya kita mengalami suatu titik dimana kita dihadapkan pada suatu situasi yang punya potensi besar untuk mencuri damai sejahtera dalam hidup kita. Mungkin hal yang sepele seperti ketinggalan bis terakhir pada jam 11 malam di jalan Sudirman, sementara rumah kita di Cengkareng, atau pencuri merampas tas beserta seluruh isinya waktu mobil kita sedang mogok di tepi jalan, sampai saat kita tidak punya cukup uang untuk biaya hidup sampai akhir bulan. Saat itu adalah waktu terbaik untuk mempraktekkan Yohanes 14 : 27.

Pada detik kita ijinkan Yesus menjadikan hidup kita sebagai tempat kediamanNya, Dia yang adalah Raja Damai akan memenuhi hidup kita dengan damai yang berbeda dari yang kita pernah rasakan sebelumnya.

Ada perasaan tenang yang sedikit aneh, karena kita jadi tampak berbeda dengan orang – orang di sekeliling kita.
Ada keyakinan yang tumbuh bahwa Allah sedang pegang kendali atas keadaan yang kita alami dan semua akan baik – baik saja.
Ada perasaan sangat intim dengan Yesus, karena Ia sudah mengalami semua yang kita alami
Ada kekuatan baru untuk kembali berjuang dan kembali melanjutkan hidup bersama Roh Kudus, Penolong kita yang setia

Dan ini adalah Damai Yang Berbeda...

Monday, June 8, 2009

Create Your Own History - Pelajaran dari Joseph Guardiola

Hari Kamis dini hari tanggal 28 Mei 2009 adalah hari yang paling ditunggu – tunggu para pecinta sepak bola dunia. Hari itu adalah hari dilangsungkannya partai final Liga Champion Eropa yang mempertemukan klub – klub sepak bola terbaik sedunia. Partai final tahun 2009 mempertemukan dua klub terbaik di dunia Manchester United dan Barcelona. Hasil akhir, Barcelona, tim favorit saya memenangkan pertandingan dengan skor 2-0 langsung.

Pertandingan yang diharapkan berlangsung ketat, ternyata malah didominasi para pemain Barca kecuali 10 menit pertama saat para pemain depan MU menciptakan beberapa peluang emas ke gawang Victor Valdes, kiper Barca.

Tahun ini adalah tahun yang tak terlupakan bagi Presiden Barcelona Joan Laporta dan setiap pendukung setia Barcelona, karena klub mereka mencetak sejarah sebagai klub Spanyol pertama yang bisa meraih 3 gelar pada tahun yang sama (treble winners) yaitu juara Liga Spanyol, juara Piala Raja dan juara Liga Champio Eropa). Dan satu lagi yang menjadi kebanggaan mereka, Barcelona mengalahkan MU, sang juara bertahan yang saat ini dianggap sebagai klub terbaik dunia berkat deretan prestasi mereka di liga Inggris dan liga Champion.

Semua ini tidak lepas dari keputusan riskan Barcelona untuk mengontrak Joseph Guardiola pada pada tanggal 5 Juni 2008, di akhir musim 2008 menggantikan Frank Rijkaard. Seseorang yang belum pernah melatih tim senior, menggantikan seorang pelatih yang pernah memberikan 2 gelar liga Spanyol dan 1 gelar liga Champion bagi Barcelona, tetapi meninggalkan tim dalam kondisi tanpa gelar selama 2 tahun dan suasana tim yang amburadul.

Setelah saya membaca beberapa artikel tentang pelatih muda ini (usianya baru 38 tahun), ada beberapa hal menarik yang bisa kita pelajari. Bagaimana Guardiola sebagai pelatih debutan berhasil meraih 3 gelar juara dalam tahun pertamanya melatih, mengalahkan para pelatih kawakan seperti Arsene Wenger, Gus Hidink dan Sir Alex Fergusson.

1) Building from foundation (membangun dari dasar)
Langkah pertama Guardiola adalah membangun timnya dari bawah. Ia menjual pemain – pemain bintang Barcelona yang menurutnya sudah tidak mempunyai semangat tim lagi. Seusai penunjukannya sebagai pelatih, ia mengumumkan bahwa tiga trisula maut Barcelona yang sukses mengantar Barcelona juara liga selama 2 tahun berturut – turut, Ronaldinho, Deco dan Samuel Eto’o tidak termasuk dalam tim Barcelona lagi di musim mendatang. Ia menjual Ronaldinho ke AC Milan dan Deco ke Chelsea. Sedangkan Samuel Eto’o yang juga terancam dilego, akhirnya selamat setelah sang pelatih baru mengatakan bahwa Eto’o tetap dipertahankan karena dedikasinya saat training dan pertandingan pra musim.

Dari 11 pemain yang bermain di final di Roma hari Kamis dini hari, 7 pemain adalah jebolan sekolah sepak bola Barcelona La Mesia. Guardiola lebih mementingkan memberi tempat bagi pemain – pemain muda potensial yang memang sudah dididik di akademi bola Barcelona sejak usia dini. Mereka sudah memahami filosofi permainan Barcelona, budaya tim dan itu yang membuat tim ini menjadi solid. Dengan demikian pemain – pemain bintang yang baru direkrut mau tak mau juga harus ikut melebur dalam budaya tim.

Jalan pembinaan memang panjang. Lebih mudah merekrut pemain yang sudah jadi daraipada membina dari dasar. Tetapi lihatlah buahnya sekarang. Lionel Messi kandidat terkuat pemain terbaik dunia bergabung dengan akademi Barcelona sejak usia 13 tahun. Andres Iniesta yang membawa Barcelona ke final berkat golnya ke gawang Chelsea pada injury time (menit 90+), menerima trofi piala Nike mewakili tim Barcelona yunior sepuluh tahun yang lalu.

2) Being humble yet confident (Keyakinan dalam kerendahhatian)
Joseph Guardiola alias Pep adalah pelatih yang rendah hati. Dia bukan tipe Jose Mourinho yang suka melakukan psywar dengan menyerang tim lawan sebelum pertandingan. Saat diwawancarai sebelum pertandingan final Liga Champion berlangsung, ia selalu melontarkan pujian bagi tim lawan. Ia memuji MU sebagai tim terbaik di dunia saat ini dan pelatih sir Alex Fergusson adalah pelatih yang sarat pengalaman. Bahkan setelah timnya memenangi liga Champion, Pep mengatakan bahwa timnya bukanlah tim terbaik dalam sejarah, tetapi memainkan musim terbaik dalam sejarah dengan memenangi tiga gelar juara.

Akan tetapi dalam sikap rendah hati tersebut, Guardiola tetap menyuarakan keyakinan bahwa timnya akan tetap memainkan permainan yang terbaik. Dalam pertandingan final kemarin sebenarnya MU lebih difavoritkan untuk menang. Selain memiliki pemain starter yang relatif lebih lengkap dari Barca, MU adalah juara bertahan liga Champion. Dalam rekam jejak perjalanan ke final MU unggul aggregat 4-1 dalam semifinal vs Arsenal, dibandingkan Barca yang hanya menang gol tandang vs Chelsea pada detik – detik terakhir pertandingan.

MU hanya kehilangan 1 pemain yang dikenai kartu merah pada pertandingan semifinal (Darren Fletcher), sedangkan Barca kehilangan 3 bek inti, Dani Alves, Erik Abidal dan Rafael Marquez. Ditambah Thierre Henry dalam kondisi tidak 100% fit karena baru pulih dari cedera.

Meskipun dalam kondisi demikian, sang pelatih tetap yakin akan kekuatan tim yang diasuhnya. Dalam wawancara sebelum final, ia berkata bahkan apabila ia harus memainkan 11 pemain cadangan pun, mereka akan tetap berjuang merebut kemenangan dengan satu – satunya pola permainan yang mereka yakini, yaitu sepak bola menyerang. Dan seluruh dunia menjadi saksi bagaimana di stadium Olympico Roma, MU menjadi bulan – bulanan permainan menyerang Barcelona.


3) Keep on doing what you have done best (Terus melakukan yang terbaik yang kita bisa)
Sepanjang musim pertandingan 2008 – 2009, Barcelona konsisten menerapkan sistem permainan menyerang dengan skema 4 -3-3. Mereka tidak memulai dengan mulus. Hanya mendapat 1 poin dari 6 pertandingan pertama mereka, awal terburuk Barca sejak tahun 1974, dan mereka mengakhiri musim kompetisi dengan rekor terbaik sepanjang sejarah tim.

Guardiola tidak panik. Ia tetap konsisten pada pola menyerang dengan tiga striker di depan. Waktu akhirnya membuktikan trio pemain depan Barca menjadi trio penyerang paling subur di seluruh dunia. Samuel Eto’o, Lionel Messi dan Thierre Henry menyarangkan total 97 gol. Barcelona menjadi tim paling subur di seluruh Eropa dengan memasukkan total 154 gol ke gawang lawan - lawannya.

Mereka bahkan menjadi momok bagi setiap tim lawan. Lawan bebuyutan RealMadrid dihantam 2-0 dan 6-2 . Bayern Munchen dilibas dengan aggregat 5-1. Mereka memaksa tim lawan untuk menyesuaikan diri dengan cara bermain mereka. Chelsea yang selalu bermain dengan pola menyerang memilih bermain dengan pola bertahan dalam dua pertandingan melawan Barca, bahkan pada saat mereka unggul 1 gol dan unggul jumlah pemain.

Barca yang kehilangan 3 pemain bertahan mereka dalam pertandingan final melawan MU, tetap konsisten untuk memainkan pola 4-3-3. Inilah satu – satunya strategi pertahanan yang diketahui Pep, yang telah mereka mainkan sepanjang musim dengan hasil yang sangat baik. Kita semua tahu hasil akhirnya. Seluruh dunia memberi applause kepada Barcelona karena permainan mereka yang sangat atraktif.

4) The sky is the limit
Dalam tahun pertamanya melatih tim sepak bola senior Guardiola sudah mencatatkan beberapa rekor bersama Barcelona.
· Barca mencatat rekor poin terbanyak di paruh musim dengan 50 poin, memecahkan rekor 47 poin Real Madrid musim lalu.
· Menjadi pelatih pertama yang membawa klub Spanyol meraih 3 gelar juara dalam satu musim.
· Pelatih termuda ketiga yang memenangkan Liga Champion
· Orang ketiga yang memenangkan liga Champion sebagai pemain dan pelatih di klub yang sama.
Dan ia masih lapar akan gelar – gelar lain di tahun – tahun mendatang…
Bagi Joseph Guardiola.... the sky is the limit, this is just a start.