Monday, June 8, 2009

Create Your Own History - Pelajaran dari Joseph Guardiola

Hari Kamis dini hari tanggal 28 Mei 2009 adalah hari yang paling ditunggu – tunggu para pecinta sepak bola dunia. Hari itu adalah hari dilangsungkannya partai final Liga Champion Eropa yang mempertemukan klub – klub sepak bola terbaik sedunia. Partai final tahun 2009 mempertemukan dua klub terbaik di dunia Manchester United dan Barcelona. Hasil akhir, Barcelona, tim favorit saya memenangkan pertandingan dengan skor 2-0 langsung.

Pertandingan yang diharapkan berlangsung ketat, ternyata malah didominasi para pemain Barca kecuali 10 menit pertama saat para pemain depan MU menciptakan beberapa peluang emas ke gawang Victor Valdes, kiper Barca.

Tahun ini adalah tahun yang tak terlupakan bagi Presiden Barcelona Joan Laporta dan setiap pendukung setia Barcelona, karena klub mereka mencetak sejarah sebagai klub Spanyol pertama yang bisa meraih 3 gelar pada tahun yang sama (treble winners) yaitu juara Liga Spanyol, juara Piala Raja dan juara Liga Champio Eropa). Dan satu lagi yang menjadi kebanggaan mereka, Barcelona mengalahkan MU, sang juara bertahan yang saat ini dianggap sebagai klub terbaik dunia berkat deretan prestasi mereka di liga Inggris dan liga Champion.

Semua ini tidak lepas dari keputusan riskan Barcelona untuk mengontrak Joseph Guardiola pada pada tanggal 5 Juni 2008, di akhir musim 2008 menggantikan Frank Rijkaard. Seseorang yang belum pernah melatih tim senior, menggantikan seorang pelatih yang pernah memberikan 2 gelar liga Spanyol dan 1 gelar liga Champion bagi Barcelona, tetapi meninggalkan tim dalam kondisi tanpa gelar selama 2 tahun dan suasana tim yang amburadul.

Setelah saya membaca beberapa artikel tentang pelatih muda ini (usianya baru 38 tahun), ada beberapa hal menarik yang bisa kita pelajari. Bagaimana Guardiola sebagai pelatih debutan berhasil meraih 3 gelar juara dalam tahun pertamanya melatih, mengalahkan para pelatih kawakan seperti Arsene Wenger, Gus Hidink dan Sir Alex Fergusson.

1) Building from foundation (membangun dari dasar)
Langkah pertama Guardiola adalah membangun timnya dari bawah. Ia menjual pemain – pemain bintang Barcelona yang menurutnya sudah tidak mempunyai semangat tim lagi. Seusai penunjukannya sebagai pelatih, ia mengumumkan bahwa tiga trisula maut Barcelona yang sukses mengantar Barcelona juara liga selama 2 tahun berturut – turut, Ronaldinho, Deco dan Samuel Eto’o tidak termasuk dalam tim Barcelona lagi di musim mendatang. Ia menjual Ronaldinho ke AC Milan dan Deco ke Chelsea. Sedangkan Samuel Eto’o yang juga terancam dilego, akhirnya selamat setelah sang pelatih baru mengatakan bahwa Eto’o tetap dipertahankan karena dedikasinya saat training dan pertandingan pra musim.

Dari 11 pemain yang bermain di final di Roma hari Kamis dini hari, 7 pemain adalah jebolan sekolah sepak bola Barcelona La Mesia. Guardiola lebih mementingkan memberi tempat bagi pemain – pemain muda potensial yang memang sudah dididik di akademi bola Barcelona sejak usia dini. Mereka sudah memahami filosofi permainan Barcelona, budaya tim dan itu yang membuat tim ini menjadi solid. Dengan demikian pemain – pemain bintang yang baru direkrut mau tak mau juga harus ikut melebur dalam budaya tim.

Jalan pembinaan memang panjang. Lebih mudah merekrut pemain yang sudah jadi daraipada membina dari dasar. Tetapi lihatlah buahnya sekarang. Lionel Messi kandidat terkuat pemain terbaik dunia bergabung dengan akademi Barcelona sejak usia 13 tahun. Andres Iniesta yang membawa Barcelona ke final berkat golnya ke gawang Chelsea pada injury time (menit 90+), menerima trofi piala Nike mewakili tim Barcelona yunior sepuluh tahun yang lalu.

2) Being humble yet confident (Keyakinan dalam kerendahhatian)
Joseph Guardiola alias Pep adalah pelatih yang rendah hati. Dia bukan tipe Jose Mourinho yang suka melakukan psywar dengan menyerang tim lawan sebelum pertandingan. Saat diwawancarai sebelum pertandingan final Liga Champion berlangsung, ia selalu melontarkan pujian bagi tim lawan. Ia memuji MU sebagai tim terbaik di dunia saat ini dan pelatih sir Alex Fergusson adalah pelatih yang sarat pengalaman. Bahkan setelah timnya memenangi liga Champion, Pep mengatakan bahwa timnya bukanlah tim terbaik dalam sejarah, tetapi memainkan musim terbaik dalam sejarah dengan memenangi tiga gelar juara.

Akan tetapi dalam sikap rendah hati tersebut, Guardiola tetap menyuarakan keyakinan bahwa timnya akan tetap memainkan permainan yang terbaik. Dalam pertandingan final kemarin sebenarnya MU lebih difavoritkan untuk menang. Selain memiliki pemain starter yang relatif lebih lengkap dari Barca, MU adalah juara bertahan liga Champion. Dalam rekam jejak perjalanan ke final MU unggul aggregat 4-1 dalam semifinal vs Arsenal, dibandingkan Barca yang hanya menang gol tandang vs Chelsea pada detik – detik terakhir pertandingan.

MU hanya kehilangan 1 pemain yang dikenai kartu merah pada pertandingan semifinal (Darren Fletcher), sedangkan Barca kehilangan 3 bek inti, Dani Alves, Erik Abidal dan Rafael Marquez. Ditambah Thierre Henry dalam kondisi tidak 100% fit karena baru pulih dari cedera.

Meskipun dalam kondisi demikian, sang pelatih tetap yakin akan kekuatan tim yang diasuhnya. Dalam wawancara sebelum final, ia berkata bahkan apabila ia harus memainkan 11 pemain cadangan pun, mereka akan tetap berjuang merebut kemenangan dengan satu – satunya pola permainan yang mereka yakini, yaitu sepak bola menyerang. Dan seluruh dunia menjadi saksi bagaimana di stadium Olympico Roma, MU menjadi bulan – bulanan permainan menyerang Barcelona.


3) Keep on doing what you have done best (Terus melakukan yang terbaik yang kita bisa)
Sepanjang musim pertandingan 2008 – 2009, Barcelona konsisten menerapkan sistem permainan menyerang dengan skema 4 -3-3. Mereka tidak memulai dengan mulus. Hanya mendapat 1 poin dari 6 pertandingan pertama mereka, awal terburuk Barca sejak tahun 1974, dan mereka mengakhiri musim kompetisi dengan rekor terbaik sepanjang sejarah tim.

Guardiola tidak panik. Ia tetap konsisten pada pola menyerang dengan tiga striker di depan. Waktu akhirnya membuktikan trio pemain depan Barca menjadi trio penyerang paling subur di seluruh dunia. Samuel Eto’o, Lionel Messi dan Thierre Henry menyarangkan total 97 gol. Barcelona menjadi tim paling subur di seluruh Eropa dengan memasukkan total 154 gol ke gawang lawan - lawannya.

Mereka bahkan menjadi momok bagi setiap tim lawan. Lawan bebuyutan RealMadrid dihantam 2-0 dan 6-2 . Bayern Munchen dilibas dengan aggregat 5-1. Mereka memaksa tim lawan untuk menyesuaikan diri dengan cara bermain mereka. Chelsea yang selalu bermain dengan pola menyerang memilih bermain dengan pola bertahan dalam dua pertandingan melawan Barca, bahkan pada saat mereka unggul 1 gol dan unggul jumlah pemain.

Barca yang kehilangan 3 pemain bertahan mereka dalam pertandingan final melawan MU, tetap konsisten untuk memainkan pola 4-3-3. Inilah satu – satunya strategi pertahanan yang diketahui Pep, yang telah mereka mainkan sepanjang musim dengan hasil yang sangat baik. Kita semua tahu hasil akhirnya. Seluruh dunia memberi applause kepada Barcelona karena permainan mereka yang sangat atraktif.

4) The sky is the limit
Dalam tahun pertamanya melatih tim sepak bola senior Guardiola sudah mencatatkan beberapa rekor bersama Barcelona.
· Barca mencatat rekor poin terbanyak di paruh musim dengan 50 poin, memecahkan rekor 47 poin Real Madrid musim lalu.
· Menjadi pelatih pertama yang membawa klub Spanyol meraih 3 gelar juara dalam satu musim.
· Pelatih termuda ketiga yang memenangkan Liga Champion
· Orang ketiga yang memenangkan liga Champion sebagai pemain dan pelatih di klub yang sama.
Dan ia masih lapar akan gelar – gelar lain di tahun – tahun mendatang…
Bagi Joseph Guardiola.... the sky is the limit, this is just a start.

No comments:

Post a Comment