Setelah mendengar berita mengejutkan itu, langsung tangan saya memutar tombol radio 90.00 – El Shinta News & Talk. Ternyata bom meledak di dua hotel – Ritz Carlton & JW Mariot. Sepertinya sudah lama sekali tidak terdengar ada ledakan bom di tempat – tempat keramaian di Indonesia. Dua kali Pemilu berjalan dengan lancar dan aman. Beberapa kali perayaan Natal, Tahun Baru dan Idul Fitri berjalan dengan damai tanpa ada gangguan keamanan.
Dan ternyata pada pagi hari tanggal 17 Juli 2009, terjadi lagi ledakan bom di 2 hotel mewah bintang 5 di kawasan Mega Kuningan. Muncul kembali perasaan asing yang pernah timbul dalam hati. Sedih, was – was, kuatir tentang teman – teman saya yang bekerja di daerah Kuningan. Ternyata meskipun seharusnya kita sudah terbiasa mendengar berita ledakan bom, tetapi ternyata perasaan saya tidak kebal dan tetap ada perasaan tidak enak yang menyelip dalam hati saya.
Pada minggu itu gereja kami kedatangan satu rombongan youth berjumlah 14 orang dari Newcastle Australia, yang khusus datang sebagai band tamu untuk festival band “Rock the City” di tempat kami. Festival Band “Rock the City” akan diadakan keesokan harinya, pada hari Sabtu tanggal 19 Juli 2009. Sempat terjadi diskusi serius apakah festival t
etap berlangsung sesuai rencana, ditunda atau bahkan dibatalkan, mengingat ada beberapa orang tua yang kuatir meminta agar anaknya segera pulang kembali ke Newcastle pada hari itu juga. Dan akhirnya dengan iman dan berbagai pertimbangan, diambil keputusan festival tetap berlangsung sesuai jadwal. Dan itu adalah keputusan yang benar. Singkat cerita festival berjalan dengan sukses, tidak ada gangguan keamanan, dan semua yang hadir menikmati penampilan setiap band peserta dan tentu saja band tamu “Weapon Generation” dari Newcastle.Peristiwa ledakan bom ini mengingatkan kita bahwa tidak ada tempat yang aman di dunia ini. Akan selalu ada pihak – pihak yang berusaha menggoncangkan rasa aman yang ada dalam diri kita. Baik itu lewat berita buruk, bencana, kecelakaan, bahkan serangan teroris seperti yang terjadi baru – baru ini.
Tidak ada rasa aman yang bisa kita dapatkan selain dari Sang Pencipta Kita. Setiap kita mempunyai orang – orang terdekat yang kita sayangi. Betapa hancur hati kita bila kita mendengar ada sesuatu kejadian buruk yang terjadi kepada mereka. Entah itu penyakit jantung atau stroke yang bisa menyerang dengan begitu tiba – tiba. Atau siapa yang dapat merasakan perasaan hati Ratna, istri Evert Mokodompis, saat ia menyadari hari yang seharusnya penuh kebahagiaan karena putra yang dinanti-nantikan lahir dengan selamat, menjadi hari yang paling memilukan. Sang suami menjadi salah satu korban tewas ledakan bom hotel J.W Mariot. Ternyata teror maut begitu dekat dengan kehidupan kita sehari – hari.
Saya teringat saat Papa mengalami serangan stroke yang pertama sekitar 15 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kuliah. Keluarga kami tinggal di Mojokerto, satu jam perjalanan dari Surabaya. Malam itu sebelum berangkat ke rumah sakit, mama memimpin saya dan dua adik saya untuk berdoa bersama. Pada saat itu ada ketenangan dalam hati kami. Papa akan baik – baik saja.
Kemudian 5
tahun yang lalu, Papa mengalami stroke kedua. Saat itu saya sudah bekerja di Jakarta, beserta adik saya yang kuliah kedokteran di UKI. Kami mendengar berita itu pada hari Minggu pagi, sebelum kami berangkat ke gereja. Pada hari itu kami bertugas melayani di gereja sebagai musisi dan singer. Hanya ada satu yang kami bisa lakukan, berdoa dan menyerahkan semuanya pada Bapa yang terkasih. Pada waktu itu usia Papa sudah 70 tahun, usia yang sangat rawan apabila terkena serangan stroke yang kedua. Kami tetap melayani dengan damai pada hari itu, dan Bapa selalu mendengar doa putra – putrinya. Sampai hari ini Papa tetap sehat. Bahkan beberapa anggota keluarga kami yang jauh lebih sehat pada waktu Papa pertama kali terkena serangan stroke, sudah dipanggil Tuhan, dan Papa masih ada bersama-sama kami.Dimanakah damai saat kita sangat memerlukannya? Bukan pada saat keadaan kita sedang baik – baik saja. Tetapi pada saat hal – hal yang tidak terduga terjadi pada diri kita sendiri atau orang – orang di sekeliling kita, saat itulah kita memerlukan damai sejahteraNya.
Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Dunia bisa berusaha memberikan damai kepada kita. Banyak cara yang mereka tawarkan, yoga, meditasi, relaxing spa, hang out di kafe, dengerin musik, chatting, konseling, nonton film, fitness, dan lain – lain. Tetapi damai yang mereka tawarkan sama seperti ekstasi, nikmatnya hanya sesaat saja. Pada saat kita sendirian dengan diri kita, apakah kita masih bisa merasakan damai dalam hati kita?
Akan ada saatnya kita mengalami suatu titik dimana kita dihadapkan pada suatu situasi yang punya potensi besar untuk mencuri damai sejahtera dalam hidup kita. Mungkin hal yang sepele seperti ketinggalan bis terakhir pada jam 11 malam di jalan Sudirman, sementara rumah kita di Cengkareng, atau pencuri merampas tas beserta seluruh isinya waktu mobil kita sedang mogok di tepi jalan, sampai saat kita tidak punya cukup uang untuk biaya hidup sampai akhir bulan. Saat itu adalah waktu terbaik untuk mempraktekkan Yohanes 14 : 27.
Pada detik kita ijinkan Yesus menjadikan hidup kita sebagai tempat kediamanNya, Dia yang adalah Raja Damai akan memenuhi hidup kita dengan damai yang berbeda dari yang kita pernah rasakan sebelumnya.
Ada perasaan tenang yang sedikit aneh, karena kita jadi tampak berbeda dengan orang – orang di sekeliling kita.
Ada keyakinan yang tumbuh bahwa Allah sedang pegang kendali atas keadaan yang kita alami dan semua akan baik – baik saja.
Ada perasaan sangat intim dengan Yesus, karena Ia sudah mengalami semua yang kita alami
Ada kekuatan baru untuk kembali berjuang dan kembali melanjutkan hidup bersama Roh Kudus, Penolong kita yang setia
Dan ini adalah Damai Yang Berbeda...
No comments:
Post a Comment