Memulai satu lagi hari yang baru. Berharap ada sesuatu berbeda yang terjadi di tengah rutinitas yang sudah direncanakan. Waktu terus berjalan, semua berjalan seperti hari kemarin. Makan pagi, berangkat ke kantor, menjawab beberapa telepon, dan sampailah pada saat istirahat makan siang. Sesudah jam makan siang, rutinitas tetap berlanjut. Menemani beberapa pelanggan, menangani beberapa keluhan dan sampailah saat jam kerja berakhir. Memulai lagi perjuangan panjang di tengah antrian mobil, motor, metro mini, bus DAMRI untuk sampai ke rumah lagi.
Itulah yang terjadi di hampir setiap hari – hariku. Waktu seakan tak bergerak, tetapi ia berjalan tanpa kenal ampun. Empat bulan lagi tahun 2009 sudah akan berakhir. Kembali pertanyaan yang sama menggaung dalam pikiranku. Apa yang sudah kubuat selama delapan bulan ini? Apakah hidupku lebih berhasil dari tahun lalu? Sudahkah kucapai target-target yang kutulis pada tanggal 1 Januari 2009? Sudahkah aku masuk tanah Perjanjian atau masihkah aku berputar – putar di padang gurun seperti bangsa Israel?
Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Ada hal – hal besar dalam hidupku yang sepertinya belum berubah dari tahun sebelumnya, seperti penghasilan, pekerjaan, pasangan hidup yang belum muncul, kelompok sel yang kembang kempis, dan beberapa hal lain.
Tetapi Allah mengingatkanku, ada hal – hal baru lain yang kucapai dalam tahun ini. Aku belajar untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan teman – teman dalam komsel ku, adik – adik rohani dan beberapa teman baru . Aku belajar lebih memperhatikan keluargaku yang tinggal di luar kota. Aku memperdalam lagi hobi musikku dengan mengambil kursus keyboard. Aku memulai hobi menulis dengan membuat blog dan membuat notes di account facebookku. Aku mendapatkan gairah dan warna baru dalam pelayanan musik terutama pada saat penyembahan.
Hal – hal ini sepertinya sangat sepele dan tidak ada artinya bagi dunia di sekitar kita. Banyak teman – teman seangkatanku yang hidupnya jauh lebih sukses dariku, baik dalam segi finansial, karir atau keluarga. Tetapi satu hal yang tetap kupercaya, hidupku sangat berarti bagi Allah dan juga bagi orang – orang lain di sekitarku.
Habakuk 2:4b – Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya
Pertanyaan pertama...sudahkah aku menjadi orang benar?
Dibenarkan oleh darah Yesus, menerima anugerah, pengampunan, damai, sukacita dan pengharapan akan hari depan yang lebih baik. Saat aku masih kuatir, lelah untuk beriman dan mulai membandingkan diriku dengan orang lain, berarti aku masih belum sepenuhnya menerima Yesus untuk tinggal dalam hidupku.
Pertanyaan kedua...sudahkah aku hidup oleh percayaku kepadaNya?
Pagi ini aku diingatkan lagi, maukah aku mempercayaiNya karena aku mengasihiNya ...
Will you believe Me out of your love to Me?
Kalau aku mengatakan aku mengasihiNya (seperti yang sering aku nyanyikan di gereja), aku akan memilih untuk tetap percaya akan semua janjiNya. Saat keadaan sekelilingku sepertinya tidak bergerak, aku akan tetap bergerak – menguatkan kembali percayaku kepadaNya dan hidup oleh percayaku, karena aku mengasihiNya.
I love You Lord and how can I not believe in You
Help me to live in Your righteousness always
Sharpen my ear so I can hear Your still voice so clear in the midst of other voices
Give me courage to step out when Your door of opportunities open in front of me
My saved lives will bring impact to people around me
Aku mengasihiMu Bapa, dan bagaimana aku bisa tidak percaya padaMu ?
Tolong aku untuk hidup dalam kebenaranMu senantiasa
Pertajam pendengaranku, sehingga aku bisa mendengar suaraMu di tengah begitu banyak suara lain
Beri aku keberanian untuk melangkah maju saat pintu kesempatanMu terbuka di depanku
Hidupku yang telah Kau tebus akan berdampak bagi orang – orang di sekelilingku..
No comments:
Post a Comment