Showing posts with label Writing Competition CIB Fest 2009. Show all posts
Showing posts with label Writing Competition CIB Fest 2009. Show all posts

Tuesday, August 4, 2009

When everything seems stand still (Saat semua nampak seperti tak bergerak)

Memulai satu lagi hari yang baru. Berharap ada sesuatu berbeda yang terjadi di tengah rutinitas yang sudah direncanakan. Waktu terus berjalan, semua berjalan seperti hari kemarin. Makan pagi, berangkat ke kantor, menjawab beberapa telepon, dan sampailah pada saat istirahat makan siang. Sesudah jam makan siang, rutinitas tetap berlanjut. Menemani beberapa pelanggan, menangani beberapa keluhan dan sampailah saat jam kerja berakhir. Memulai lagi perjuangan panjang di tengah antrian mobil, motor, metro mini, bus DAMRI untuk sampai ke rumah lagi.

Itulah yang terjadi di hampir setiap hari – hariku. Waktu seakan tak bergerak, tetapi ia berjalan tanpa kenal ampun. Empat bulan lagi tahun 2009 sudah akan berakhir. Kembali pertanyaan yang sama menggaung dalam pikiranku. Apa yang sudah kubuat selama delapan bulan ini? Apakah hidupku lebih berhasil dari tahun lalu? Sudahkah kucapai target-target yang kutulis pada tanggal 1 Januari 2009? Sudahkah aku masuk tanah Perjanjian atau masihkah aku berputar – putar di padang gurun seperti bangsa Israel?

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Ada hal – hal besar dalam hidupku yang sepertinya belum berubah dari tahun sebelumnya, seperti penghasilan, pekerjaan, pasangan hidup yang belum muncul, kelompok sel yang kembang kempis, dan beberapa hal lain.

Tetapi Allah mengingatkanku, ada hal – hal baru lain yang kucapai dalam tahun ini. Aku belajar untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan teman – teman dalam komsel ku, adik – adik rohani dan beberapa teman baru . Aku belajar lebih memperhatikan keluargaku yang tinggal di luar kota. Aku memperdalam lagi hobi musikku dengan mengambil kursus keyboard. Aku memulai hobi menulis dengan membuat blog dan membuat notes di account facebookku. Aku mendapatkan gairah dan warna baru dalam pelayanan musik terutama pada saat penyembahan.

Hal – hal ini sepertinya sangat sepele dan tidak ada artinya bagi dunia di sekitar kita. Banyak teman – teman seangkatanku yang hidupnya jauh lebih sukses dariku, baik dalam segi finansial, karir atau keluarga. Tetapi satu hal yang tetap kupercaya, hidupku sangat berarti bagi Allah dan juga bagi orang – orang lain di sekitarku.

Habakuk 2:4b – Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya

Pertanyaan pertama...sudahkah aku menjadi orang benar?
Dibenarkan oleh darah Yesus, menerima anugerah, pengampunan, damai, sukacita dan pengharapan akan hari depan yang lebih baik. Saat aku masih kuatir, lelah untuk beriman dan mulai membandingkan diriku dengan orang lain, berarti aku masih belum sepenuhnya menerima Yesus untuk tinggal dalam hidupku.

Pertanyaan kedua...sudahkah aku hidup oleh percayaku kepadaNya?
Pagi ini aku diingatkan lagi, maukah aku mempercayaiNya karena aku mengasihiNya ...
Will you believe Me out of your love to Me?

Kalau aku mengatakan aku mengasihiNya (seperti yang sering aku nyanyikan di gereja), aku akan memilih untuk tetap percaya akan semua janjiNya. Saat keadaan sekelilingku sepertinya tidak bergerak, aku akan tetap bergerak – menguatkan kembali percayaku kepadaNya dan hidup oleh percayaku, karena aku mengasihiNya.

I love You Lord and how can I not believe in You
Help me to live in Your righteousness always
Sharpen my ear so I can hear Your still voice so clear in the midst of other voices
Give me courage to step out when Your door of opportunities open in front of me
My saved lives will bring impact to people around me

Aku mengasihiMu Bapa, dan bagaimana aku bisa tidak percaya padaMu ?
Tolong aku untuk hidup dalam kebenaranMu senantiasa
Pertajam pendengaranku, sehingga aku bisa mendengar suaraMu di tengah begitu banyak suara lain
Beri aku keberanian untuk melangkah maju saat pintu kesempatanMu terbuka di depanku
Hidupku yang telah Kau tebus akan berdampak bagi orang – orang di sekelilingku..

Wednesday, July 22, 2009

Damai Yang Berbeda (A Different Kind of Peace)

Bagaimana seharusnya perasaan kita saat kita mendengar ada bom meledak di kota kita sendiri? Sedih, cemas, was – was, prihatin terhadap korban yang jatuh, dan akhirnya geram. Pagi itu, sekitar pukul 08.30, saat saya sedang berada di mobil kantor dalam perjalanan menjemput karyawan, atasan saya menelpon. Ia memberitahu ada bom meledak di hotel Ritz Carlton Kuningan dan minta kami berjaga – jaga kalau ada kemacetan di daerah Sudirman menuju Kuningan, dan agar bisa mengambil jalan alternatif. Kantor kami ada di daerah KH Mas Mansyur, dekat ke jalan Sudirman, dan sebenarnya masih agak jauh dari Mega Kuningan.

Setelah mendengar berita mengejutkan itu, langsung tangan saya memutar tombol radio 90.00 – El Shinta News & Talk. Ternyata bom meledak di dua hotel – Ritz Carlton & JW Mariot. Sepertinya sudah lama sekali tidak terdengar ada ledakan bom di tempat – tempat keramaian di Indonesia. Dua kali Pemilu berjalan dengan lancar dan aman. Beberapa kali perayaan Natal, Tahun Baru dan Idul Fitri berjalan dengan damai tanpa ada gangguan keamanan.

Dan ternyata pada pagi hari tanggal 17 Juli 2009, terjadi lagi ledakan bom di 2 hotel mewah bintang 5 di kawasan Mega Kuningan. Muncul kembali perasaan asing yang pernah timbul dalam hati. Sedih, was – was, kuatir tentang teman – teman saya yang bekerja di daerah Kuningan. Ternyata meskipun seharusnya kita sudah terbiasa mendengar berita ledakan bom, tetapi ternyata perasaan saya tidak kebal dan tetap ada perasaan tidak enak yang menyelip dalam hati saya.

Pada minggu itu gereja kami kedatangan satu rombongan youth berjumlah 14 orang dari Newcastle Australia, yang khusus datang sebagai band tamu untuk festival band “Rock the City” di tempat kami. Festival Band “Rock the City” akan diadakan keesokan harinya, pada hari Sabtu tanggal 19 Juli 2009. Sempat terjadi diskusi serius apakah festival tetap berlangsung sesuai rencana, ditunda atau bahkan dibatalkan, mengingat ada beberapa orang tua yang kuatir meminta agar anaknya segera pulang kembali ke Newcastle pada hari itu juga. Dan akhirnya dengan iman dan berbagai pertimbangan, diambil keputusan festival tetap berlangsung sesuai jadwal. Dan itu adalah keputusan yang benar. Singkat cerita festival berjalan dengan sukses, tidak ada gangguan keamanan, dan semua yang hadir menikmati penampilan setiap band peserta dan tentu saja band tamu “Weapon Generation” dari Newcastle.

Peristiwa ledakan bom ini mengingatkan kita bahwa tidak ada tempat yang aman di dunia ini. Akan selalu ada pihak – pihak yang berusaha menggoncangkan rasa aman yang ada dalam diri kita. Baik itu lewat berita buruk, bencana, kecelakaan, bahkan serangan teroris seperti yang terjadi baru – baru ini.

Tidak ada rasa aman yang bisa kita dapatkan selain dari Sang Pencipta Kita. Setiap kita mempunyai orang – orang terdekat yang kita sayangi. Betapa hancur hati kita bila kita mendengar ada sesuatu kejadian buruk yang terjadi kepada mereka. Entah itu penyakit jantung atau stroke yang bisa menyerang dengan begitu tiba – tiba. Atau siapa yang dapat merasakan perasaan hati Ratna, istri Evert Mokodompis, saat ia menyadari hari yang seharusnya penuh kebahagiaan karena putra yang dinanti-nantikan lahir dengan selamat, menjadi hari yang paling memilukan. Sang suami menjadi salah satu korban tewas ledakan bom hotel J.W Mariot. Ternyata teror maut begitu dekat dengan kehidupan kita sehari – hari.

Saya teringat saat Papa mengalami serangan stroke yang pertama sekitar 15 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kuliah. Keluarga kami tinggal di Mojokerto, satu jam perjalanan dari Surabaya. Malam itu sebelum berangkat ke rumah sakit, mama memimpin saya dan dua adik saya untuk berdoa bersama. Pada saat itu ada ketenangan dalam hati kami. Papa akan baik – baik saja.


Kemudian 5 tahun yang lalu, Papa mengalami stroke kedua. Saat itu saya sudah bekerja di Jakarta, beserta adik saya yang kuliah kedokteran di UKI. Kami mendengar berita itu pada hari Minggu pagi, sebelum kami berangkat ke gereja. Pada hari itu kami bertugas melayani di gereja sebagai musisi dan singer. Hanya ada satu yang kami bisa lakukan, berdoa dan menyerahkan semuanya pada Bapa yang terkasih. Pada waktu itu usia Papa sudah 70 tahun, usia yang sangat rawan apabila terkena serangan stroke yang kedua. Kami tetap melayani dengan damai pada hari itu, dan Bapa selalu mendengar doa putra – putrinya. Sampai hari ini Papa tetap sehat. Bahkan beberapa anggota keluarga kami yang jauh lebih sehat pada waktu Papa pertama kali terkena serangan stroke, sudah dipanggil Tuhan, dan Papa masih ada bersama-sama kami.

Dimanakah damai saat kita sangat memerlukannya? Bukan pada saat keadaan kita sedang baik – baik saja. Tetapi pada saat hal – hal yang tidak terduga terjadi pada diri kita sendiri atau orang – orang di sekeliling kita, saat itulah kita memerlukan damai sejahteraNya.

Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Dunia bisa berusaha memberikan damai kepada kita. Banyak cara yang mereka tawarkan, yoga, meditasi, relaxing spa, hang out di kafe, dengerin musik, chatting, konseling, nonton film, fitness, dan lain – lain. Tetapi damai yang mereka tawarkan sama seperti ekstasi, nikmatnya hanya sesaat saja. Pada saat kita sendirian dengan diri kita, apakah kita masih bisa merasakan damai dalam hati kita?

Akan ada saatnya kita mengalami suatu titik dimana kita dihadapkan pada suatu situasi yang punya potensi besar untuk mencuri damai sejahtera dalam hidup kita. Mungkin hal yang sepele seperti ketinggalan bis terakhir pada jam 11 malam di jalan Sudirman, sementara rumah kita di Cengkareng, atau pencuri merampas tas beserta seluruh isinya waktu mobil kita sedang mogok di tepi jalan, sampai saat kita tidak punya cukup uang untuk biaya hidup sampai akhir bulan. Saat itu adalah waktu terbaik untuk mempraktekkan Yohanes 14 : 27.

Pada detik kita ijinkan Yesus menjadikan hidup kita sebagai tempat kediamanNya, Dia yang adalah Raja Damai akan memenuhi hidup kita dengan damai yang berbeda dari yang kita pernah rasakan sebelumnya.

Ada perasaan tenang yang sedikit aneh, karena kita jadi tampak berbeda dengan orang – orang di sekeliling kita.
Ada keyakinan yang tumbuh bahwa Allah sedang pegang kendali atas keadaan yang kita alami dan semua akan baik – baik saja.
Ada perasaan sangat intim dengan Yesus, karena Ia sudah mengalami semua yang kita alami
Ada kekuatan baru untuk kembali berjuang dan kembali melanjutkan hidup bersama Roh Kudus, Penolong kita yang setia

Dan ini adalah Damai Yang Berbeda...